LATIHAN
Jumat, 04 Desember 2015
Minggu, 29 November 2015
Kamis, 17 September 2015
PRAKTEK SEBELUM UTS
Resep DESSERTS ala rumahan
Menurut sejarahnya, dessert adalah makanan
penutup. Dessert berasal dari bahasa Inggris dan desservir dari bahasa Prancis
kuno. Hidangan penutup merupakan bagian standar dari makanan barat pada abad ke
19. Pada saat itu, dessert hanya berupa permen dan manisan buah.
Akan tetapi ketika gula menjadi lebih murah dan mudah diperoleh, maka
perkembangan dan popularitas makanan penutup atau dessert semakin menjadi
lebih terkenal.
Hidangan penutup atau dessert terdiri dari makanan
yang manis manis, meskipun ada beberapa makanan yang memiliki cita rasa yang
kuat seperti keju. Dessert biasannya disetting informal dan sangat menarik..
Makanan
penutup ( desserts ) merupakan makanan yang hampir semua orang menyukainya
karena selain rasanya manis juga penampilannya sangat menarik. Untuk itu saya
di sini akan memberikan resep-resep desserts yang sangat gampang di buat sendiri
dan bisa di jadikan sebagai bahan usaha kecil-kecilan.
1.
Bolu
gula merah (tiwul)
-
Mixer
-
Cetakan kue
-
Panci sedang
-
Pisau
-
Kain serbet
-
Wadah/baskom
-
Gula merah secukupnya
-
1 gelas Minyak goreng
-
1/2 sendok TBM (pengembang kue)
-
5 butir telur ayam
-
1/4 kg tepung terigu
-
1 bungkus panili
-
250ml santan kental
-
Iris tipis-tipis gula merah sampai halus
agar tidak lama dalam proses pengocokan.
-
Masukakan telur, gula merah, TBM , panili
kedalam wadah yang sudah di sediakan . Kocok hingga mengembang ±15 menit.
-
Lalu, campurkan terigu kedalam adonan.
-
Setelah tercampur merata , tambahkan
santan dan minyak goreng aduk sampai adonan mengental.
-
Sambil menunggu adonan tercampur,
didihkan air di dalam panci lalu lumuri cetakan kue dengan minyak goreng hanya
sedikit saja , agar kue tidak menempel pada cetakan.
-
Masukkan cetakkan kue kedalam panci yang
airnya sudah mendidih , bungkus tutup panci dengan kain yang bersih. Tunggu ±2
menit.
-
Masukkan adonan kedalam cetakan kue hanya
¼ dari cetakan kue tutup kembali dan tunggu hingga mengembang.
-
Setelah mengembang tuangkan lagi sedikit
demi sedikit. Menuangkan adonan jangan sekaligus karena dapat berpengaruh
terhadap berkembangnya kue. Buat adonan 3x menuang kedalam cetakan kue.
-
Setelah adonan dalam cetakan penuh dan
mengembang , siapkan piring saji lalu pindahkan kue dari dalam cetakan kedalam
piring tersebut. Kue siap di santap.
2. Puding Roti
Tawar
1. 300 ml Susu cair kisaran
2. ¼ sdt Bubuk vanili
3. 30 gram Margarin/butter sebanyak (yang
sudah dicairkan)
4. 30 gram potongan buah – buahan segar
(semangka, apel dll) atau bisa juga kismis, kurma dan sebagainya
5. 50 gram Gula pasir
6. 5 lembar Roti tawar (sudah
dihilangkan kulitnya)
7. 3 butir telur (sudah dikocok lepas)
1. Campurkan beberapa bahan dasar
seperti vanili, susu cair 300 ml dan gula pasir 50 gram ke dalam panci. Lalu
rebus sampai mendidih dan jangan lupa untuk diaduk terus menerus agar larut
semuanya.
2. Kemudian masukkan roti tawar ke
dalam adonan tadi sambil diaduk kembali. Biarkan kurang lebih 30 menit untuk
memastikan bahwa rotinya hancur lebur dan lembut.
3. Selanjutnya,masukkan lagi kocokan 3
butir telur yang sudah disiapakn sebelumnya ke adonan. Tambahkan margarine cair
30 gram lalu aduk lagi agar merata secara keseluruhan.
4. Langkah keempat, siapkan loyang atau
cetakan yang sudah dibasahi margarine (tujuanya agar tidak lengket)
5. Setelah adonan benar – benar
mendidih, angkat lalu aduk sebentar untuk menghilangkan uapnya. Tuang ke
cetakan (loyang) sampai prosenya selesai. Saatnya kukus adonan tersebut selama
5 menit.
6. Setelah itu, taburi beberapa buah
segar atau coklat, keju, kurma maupun kismis di atas adonan puding. Lalu kukus
kembali selama 20 menit sampai matang secara sempurna. Jika sudah matang boleh
didinginkan dalam lemari es atau langsung disajikan.
3.
Red Velvet Cake
Bahan red velvet cake
250 gram Tepung terigu (diayak)
1/2 sdt Garam
15 gram Coklat bubuk
113 gram Mentega
300 gram Gula pasir
2 butir Telur ayam
1 sdt Vanili ekstrak
240 ml Buttermilk
2 sdm Pewarna makanan merah
1 sdt Baking soda
250 gram Tepung terigu (diayak)
1/2 sdt Garam
15 gram Coklat bubuk
113 gram Mentega
300 gram Gula pasir
2 butir Telur ayam
1 sdt Vanili ekstrak
240 ml Buttermilk
2 sdm Pewarna makanan merah
1 sdt Baking soda
- Masukkan mentega dan
gula, kocok hingga halus. Tambahkan vanili serta telur, kemudian kocok adonan
hingga merata.
- Masukkan pewarna merah serta susu secara perlahan, lalu tuangkan sedikit demi sedikit tepung terigu.
- Campurkan baking soda dan cuka, lalu tuangkan ke dalam adonan tepung tadi. Aduk kembali hingga merata.
- Masukkan adonan ke dalam cetakan atau loyang, lalu panggang di dalam oven menggunakan suhu 180 C selama lebih kurang 30 menit.
- Masukkan pewarna merah serta susu secara perlahan, lalu tuangkan sedikit demi sedikit tepung terigu.
- Campurkan baking soda dan cuka, lalu tuangkan ke dalam adonan tepung tadi. Aduk kembali hingga merata.
- Masukkan adonan ke dalam cetakan atau loyang, lalu panggang di dalam oven menggunakan suhu 180 C selama lebih kurang 30 menit.
- Red velvet siap di hidangkan.
4. Bubur Sumsum
|
900
ml
|
santan
encer
|
|
5
sdm munjung
|
tepung
beras
|
|
1
sdt
|
garam
|
Saus
:
|
300
g
|
gula
merah, sisir
|
|
50
ml
|
air
|
|
2
lbr
|
daun
pandan
|
|
4
sdm
|
gula
pasir
|
-
saus:
rebus bahan saus dengan api kecil,sampai gula larut dan mengental. Saring
-
campurkan
santan,tepung beras dan garam. aduk rata. masak di api sedang sambil terus
diaduk sampai terasa berat. kecilkan api,lanjutkan mengaduk sampai meletup
letup.
-
Masukan bubur yang sudah siap ke dalam
mangkuk , lalu tuangkan saus . bubur sumsum siap di santap.
Itu
adalah beberapa resep yang bias di sampaikan , mudah-mudahan bermanfaat dan
nggak bikin ngiler :D.. tolooong di coba yaaa di rumah.. TERIMA KASIH DAN SAMPAI JUMPA :)
Minggu, 23 Agustus 2015
SANGKURIANG
Awalnya diceritakan di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang
berbuat kesalahan, maka oleh Sang Hyang Tunggal mereka dikutuk turun ke
bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi hutan (celeng)
bernama celeng Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing
bernama si Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan
bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi
dewa-dewi kembali.
Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara tengah pergi berburu. Di
tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring
(keladi hutan), dalam versi lain disebutkan air kemih sang raja
tertampung dalam batok kelapa. Seekor babi hutan betina bernama Celeng
Wayung Hyang yang tengah bertapa sedang kehausan, ia kemudian tanpa
sengaja meminum air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil
dan melahirkan seorang bayi yang cantik, karena pada dasarnya ia adalah
seorang dewi. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja
yang tidak menyadari bahwa ia adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa
ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.
Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para
raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada
yang diterima.
Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi
pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit
ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik
menenun kain, torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain
terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar
ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan
torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan
suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang
mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat
perkataannya itu Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan
janjinya, maka ia pun harus menikahi si Tumang. Karena malu, kerajaan
mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani si Tumang.
Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya
sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu
dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si Tumang.
Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama
Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.
Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan,
maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke
hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak
hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi
hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk
mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si
Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang
sendiri maka si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang
menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja
anak panah terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk anak panah.
Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang
pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Hati si Tumang
oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan
dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah
hati si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak
serta-merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari
tempurung kelapa sehingga terluka.
Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang
menyesali perbuatannya telah mengusir anaknya, mencari dan
memanggil-manggil Sangkuriang ke hutan memohonnya untuk segera pulang,
akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih dan
memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan
anaknya. Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan
tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi
mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak
pertapa sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah
tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa.
Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah
barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi,
ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang
ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Karena Dayang Sumbi melakukan
tapa dan laku hanya memakan tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi
tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari
bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan
itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang
Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui
bahwa Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya,
bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap
memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk
menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak
mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang
membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan
membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur,
tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul. Rantingnya
ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan
bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai
dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar
niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang
(kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai
fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah
Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun
lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat
Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak
kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang.
Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan
dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud
menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran
anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir
tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri
dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya,
maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun
Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung
berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).
Langganan:
Komentar (Atom)






